Email
Password
 
Lupa password?  |  Pendaftaran
Login

Detil Keputusan

Iddahnya Perempuan yang Belum Sampai Tahun Lepas dari Haidh yang Lalu
Muktamar Ke-11Waqi`iyyah Kewanitaan 187 x

I. Masalah

Bagaimana iddah seorang perempuan yang dicerai suaminya, lalu ia sampai satu setengah tahun tidak haid, karena sakit diperasi perutnya, padahal ia belum sampai tahun lepas dari haid (sinnil-yasi). Kemudian cinta pada lelaki yang ingin menikahinya, apakah boleh kawin setelah iddah syuhur, ataukah boleh iddah menurut pendapat qaul qadim dengan iddah sembilan bulan setelah iddah tiga bulan?

II. Putusan

Tidak boleh kawin (nikah) sebelum iddah tiga sucian atau usia lanjut sampai tahun lepas dari haid (sinnil-yasi) ittifaq antara pendapat ulama.

III. Referensi

mn,m

مَنْ اِنْقَطَعَ دَمُهَا لِعِلَّةٍ تُعْرَفُ كَرَضَاعٍ وَمَرَضٍ وَخَوْفٍ وَضَيْقِ عَيْشٍ فَالْمَجْزُوْمُ بِهِ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّ عِدَّتَهَا بِالأَقْرَاءِ وَإِنَّهَا تَصْبِرُ حَتىَّ تَحِيْضَ أَوْ تَبْلُغَ سِنَّ الإِيَاسِ اِثْنَانِ وَسِتُّوْنَ سَنَةً فَتَعْتَدُّ حِيْنَئِذٍ بِالأَشْهُرِ.

Perempuan yang darah haidnya terputus oleh sebab-sebab yang dapat diketahui seperti karena menyusui, sakit, ketakutan, dan tekanan hidup yang berat, maka menurut pendapat yang dipegang dalam madzhab adalah bahwa iddahnya dengan hitungan qur’u, di mana perempuan tersebut harus bersabar (tidak boleh kawin lagi) sampai ia mengalami haid atau sudah mencapai usia ayisah (menopause), yakni usia enam puluh dua tahun. Dalam hal ini maka ia beriddah dengan hitungan bulan.
- Ibnu Ziyad, Talkhisul Murad pada hasyiyah Abdurrahman Ba’lawi, Bughyatul Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M), h. 242.

َمَّا مَنْ اِنْقَطَعَ حَيْضُهَا بِعِلَّةٍ تُعْرَفُ كَرَضَاعٍ وَمَرَضٍ فَلاَ تَتَزَوَّجُ اِتِّفَاقًا حَتىَّ تَحِيْضَ أَوْ تَيْأَسَ وَإِنْ طَالَتِ الْمُدَّةُ.

Adapun perempuan yang haidnya terputus oleh sebab yang diketahui seperti karena menyusui dan sakit, maka tidak boleh kawin lagi, menurut kesepakatan pendapat para ahli, hingga ia mengalami haid atau mencapai usia ayisah (menopause), walaupun tenggang waktunya lama.
- Zainuddin al-Malaibari, Fathul Mu’in pada hamisy Al-Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyati, I’anatuth Thalibin (Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.), Jilid IV, h. 42.

Kembali

 
Terkait

 

 

 

 

 

 

Tokoh