Email
Password
 
Lupa password?  |  Pendaftaran
Login

Detil Keputusan

Musafir Sebelum Sampai Tempat yang Dituju Menjalani Shalat Jama’ Qashar
Muktamar Ke-8Waqi`iyyah Shalat 416 x

I. Masalah

Apakah musafir (orang yang bepergian) jauh, kemudian singgah di suatu tempat sebelum sampai tempat yang dimaksud masih boleh menjalankan jama’ (mengumpulkan shalat) dan qashar (menyingkat shalat) dalam tempat singgahnya tersebut? (Pekalongan).

II. Putusan

Boleh jama’ dan qashar, asal tidak niat singgah sampai empat hari empat malam penuh (selain hari datang dan berangkat).

III. Referensi

mn,m

(وَ) يَنْتَهِي أَيْضًا (بِوُصُوْلِ مَوْضِعٍ نَوَى) الْمُسْتَقِلُّ (الإِقَامَةَ فِيْهِ مُطْلَقًا) مِنْ غَيْرِتَقْيِيْدٍ وَ إِنْ لَمْ يَصْلُحْ لِلإِقَامَةِ. (أَوْ) نَوَى أَنْ يُقِيْمَ فِيْهِ (أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ) بِلَيَالِيْهَا (صَحِيْحَةً) أَيْ غَيْرَ يَوْمَيْ الدُّخُوْلِ وَ الْخُرُوْجِ. .

Dan juga dipandang selesai (batas bepergian) jika telah sampai pada suatu tempat yang diniatkan untuk bermukim secara mutlak tanpa batasan apa pun, walaupun tempat tersebut tidak layak untuk bermukim. Atau niat bermukim di suatu selama empat hari empat malam adalah sah, yakni selain dua hari, hari datang dan hari pergi.
- Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhajul Qawim dalam Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi, Mauhibah Dzil Fadl (Mesir: al-Amirah al-Syarafiya, 1326 H), Jilid III, h. 163 – 164.

(وَثَالِثُهَا قَصْدُ مَحَلِّ مَعْلُوْمٍ) وَ إِنْ لَمْ يُعَيِّنْهُ (أَوَّلاً).
وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر وَاحْتَرَزَ بِقَوْلِهِ أَوَّلاً عَنِ الدَّوَامِ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِيْهِ حَتَّى لَوْ نَوَى مَسَافَةَ قَصْرٍ ثُمَّ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ الْمَحَلَّ الَّذِي يَصِيْرُ بِهِ مُسَافِرًا نَوَى أَنَّهُ يَرْجِعُ إِنْ وَجَدَ غَرَضَهُ أَوْ يُقِيْمُ فِي طَرِيْقِهِ وَلَوْ بِمَحَلٍّ قَرِيْبٍ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّهُ يُتَرَخَّصُ إِلَى وُجُوْدِ غَرَضِهِ أَوْ دُخُوْلِهِ ذَلِكَ الْمَحَلَّ لإِنْعِقَادِ سَبَبِ الرُّخْصَةِ فِي حَقِّهِ فَيَكُوْنُ حُكْمُهُ مُسْتَمِرًا إِلَى وُجُوْدِ مَا غَيَّرَ النِّيَّةَ إِلَيْهِ. .

Syarat (shalat jama’ qashar) yang ketiga adalah niat menuju suatu tempat tertentu walaupun tidak ditentukan sebelumnya. Penjelasannya, kecuali ia berniat untuk selamanya. Maka tidak disyaratkan ketentuan tersebut walaupun seandainya berniat melakukan perjalanan dalam jarak shalat qashar, kemudian setelah meninggalkan tempat tersebut ia berniat untuk kembali lagi jika memang tujuannya telah tercapai atau ia tinggal di tengah perjalanan walaupun di suatu tempat yang dekat selama empat hari. Sesungguhnya ia mendapatkan rukhshah (keringanan) hingga tercapai maksudnya atau setelah datang ke tempat tersebut karena sudah terjadi sebab yang membolehkan rukhshah padanya, sehingga hukumnya tetap berlangsung sampai tujuannya tercapai sepanjang niatnya tidak berubah.
- Sulaiman al-Jamal, Futuhatul Wahhab ‘ala Fathil Wahhab, (Beirut: Darul Fikr, t.th), Jilid I, h. 601.

(مَسْأَلَةُ ب ش) أَقَامَ الْحَاجُّ بِمَكَّةَ قَبْلَ الْوُقُوْفِ دُوْنَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ صِحَاحٍ لَمْ يَنْقَطِعْ سَفَرُهُ وَ حِيْنَئِذٍ فَلَهُ التَّرَخُّصُ فِي خُرُوْجِهِ بِعَرَفَاتَ وَ إِنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ اْلإِقَامَةَ بِمَكَّةَ بَعْدَ الْحَجِّ إِذْ لاَ يَنْقَطِعُ سَفَرُهُ بِذَلِكَ حَتَّى يُقِيْمَ اْلإِقَامَةَ الْمُؤَثِّرَةَ عَلَى الْمُعْتَمَدِ.

Orang berhaji yang tinggal di Makkah sebelum wukuf (di Arafah) selama kurang dari empat hari secara penuh, maka kedudukan musafirnya tidak putus sehingga ia tetap mendapatkan rukhshah (keringanan) ketika keluar ke Arafat, walaupun ia berniat untuk tinggal di Makkah setelah menunaikan haji, karena kedudukan musafirnya tidak putus sampai ia benar-benar tinggal di sana, demikian menurut pendapat yang kuat.
- Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371/1952), h. 76.

Kembali

 
Terkait

 

 

 

 

 

 

Tokoh